Toronto, 2026
Layaknya reinkarnasi, kali ini alam bawah sadarku memutar ulang nyaris semua rekaman kejadian yang pernah kualami di masa-masa sekolah menengah. Aku merasa seperti terlahir kembali. Benar-benar tak tahu apa-apa soal realitas. Ini yang terjadi secara nahas ketika aku menginjak tahun pertama perkuliahan. Semuanya baru. Bahasa baru, teman baru, makanan baru, yang masih bertahan cuma tas ransel zaman SMA dan botol minum Tupperware berwarna biru yang belum kuganti dari SMP kelas satu. Aku mendiagnosa diriku sendiri seperti tidak mengerti apapun yang sedang berlangsung, tidak mengenal siapapun yang semestinya kujadikan teman dekat untuk bertahan di beberapa bulan pertama kuliah. Aku bahkan me- reset semua hal-hal yang teratribusi dengan identitasku yang dahulu sangat kuyakini adalah alasan mengapa aku bisa di sampai di pemberhentian ini. Aku lupa semuanya. Tidak, aku melupakan semuanya. Kupikir saat itu memori dan atribusi inilah yang menghambat perkembanganku untuk mencapai apa yang ak...