Toronto, 2026
Layaknya reinkarnasi, kali ini alam bawah sadarku memutar ulang nyaris semua rekaman kejadian yang pernah kualami di masa-masa sekolah menengah. Aku merasa seperti terlahir kembali. Benar-benar tak tahu apa-apa soal realitas. Ini yang terjadi secara nahas ketika aku menginjak tahun pertama perkuliahan. Semuanya baru. Bahasa baru, teman baru, makanan baru, yang masih bertahan cuma tas ransel zaman SMA dan botol minum Tupperware berwarna biru yang belum kuganti dari SMP kelas satu.
Aku mendiagnosa diriku sendiri seperti tidak mengerti apapun yang sedang berlangsung, tidak mengenal siapapun yang semestinya kujadikan teman dekat untuk bertahan di beberapa bulan pertama kuliah. Aku bahkan me-reset semua hal-hal yang teratribusi dengan identitasku yang dahulu sangat kuyakini adalah alasan mengapa aku bisa di sampai di pemberhentian ini. Aku lupa semuanya. Tidak, aku melupakan semuanya. Kupikir saat itu memori dan atribusi inilah yang menghambat perkembanganku untuk mencapai apa yang aku impikan. Jadi aku memutuskan untuk bisa lebih giat tanpa mendapatkan distraksi dari arah manapun.
Namun nyatanya, apa yang kucoba buang adalah fail internal yang bila kuhapus maka akan merusak sistemnya. Semuanya menjadi tidak seimbang. Hancur. Aku kehilangan arah. Aku kehilangan diriku sendiri. Bulan Desember 2025 adalah waktu ketika aku tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk mengatasi kerusakan ini. Masih berkutat dengan pencarian kunci peti, aku justru mencari peti lain yang berada di seberang lautan. Padahal penjaganya bilang kunci peti pertama itu ada di bawah tanah pulau yang sama.
Semua orang dalam pandanganku adalah ancaman yang kapan saja bisa membunuh. Aku tidak pernah memiliki estimasi pasti akan kapan aku harus mengeluarkan sesuatu untuk menghadapinya. Semua orang yang kutemui di sepanjang perjalanan membawa pistol di balik saku mereka.
Selalu aku harap ini semua berakhir dengan cepat. Namun, semuanya hanya akan berakhir tanpa celaka bila aku bisa menanganinya dengan hati-hati di sepanjang perjalanan. Per hari ini, sudah lebih dari sepuluh kali aku kehilangan akal sehatku untuk tetap waras. Ini justru menciptakan bongkahan distraksi yang paling besar sepanjang masa hidupku. Aku tidak tahu harus dibasmi pakai apa.
Seribu kali aku crashout di semester pertama. Aku tidak bisa mengandalkan siapapun selain diriku sendiri. Adalah bohong kalau aku ingin tetap hidup saat itu. Semuanya berkabut. Aku tidak melihat keluarga dan sahabatku sedang menantikanku di jauh sana dengan harapan sesuatu. Karena aku sendiri saja sudah kehilangan sulut pemantik untuk lilin di rumah hantu ini.
Semester dua adalah masa dimana aku sepenuhnya kehilangan jiwaku. Makan tidak pernah terasa nafsu, ibadah terasa hambar, doomscrolling untuk memperbaiki suasana hati meski itu adalah jebakan yang terburuk bagi mindset desease yang kukembangkan seiring waktu berjalan.
Aku crashout lagi separah-parahnya. Aku akhirnya mulai menemukan hiburan baru dengan menjadi Caratdeul. Semua member Seventeen ternyata kocak. Ini bikin aku jadi ketawa segila seperti dulu saat SMP dan SMA masih menggemari K-pop. Aku merasa jauh lebih baik. Tapi tepat hari dimana aku baru saja menemukan calon penebus hobi diriku yang dulu, aku mendapatkan masalah paling fatal. Aku gagal satu mata kuliah. Dan... aku harus menetap di Toronto selama musim panas. Aku tidak jadi pulang ke rumah.
:)))))
Komentar
Posting Komentar